Pendahuluan
Kata hijrah sering kali dikaitkan dengan perpindahan Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah. Namun, dalam konteks kehidupan modern, makna hijrah jauh lebih luas daripada sekadar berpindah tempat atau meninggalkan sesuatu secara fisik.
Bagi mahasiswa Muslim, hijrah bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi menata ulang arah hidup menuju kebaikan dan kedekatan kepada Allah SWT.
Melalui pemahaman yang benar, hijrah dapat menjadi proses spiritual dan intelektual yang membawa perubahan besar dalam cara berpikir, bersikap, dan berakhlak.
1. Pengertian Hijrah dalam Islam
Secara bahasa, hijrah berarti “meninggalkan” atau “berpindah.”
Dalam sejarah Islam, hijrah Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah menjadi tonggak penting lahirnya masyarakat Islam yang kuat, adil, dan berperadaban.
Namun, secara maknawi, hijrah juga berarti berpindah dari keburukan menuju kebaikan, dari maksiat menuju taat, dari kelalaian menuju kesadaran.
Dengan kata lain, hijrah bukan hanya perubahan tempat, melainkan perubahan hati dan perilaku.
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”
— HR. Bukhari dan Muslim
2. Hijrah Sebagai Proses Perbaikan Diri
Hijrah tidak terjadi dalam satu malam. Ia adalah proses bertahap menuju ketaatan yang lebih baik.
Mahasiswa yang berhijrah bukan berarti langsung sempurna, tapi terus berusaha memperbaiki diri setiap hari.
Contoh hijrah di kehidupan kampus:
- Mengubah cara berpakaian menjadi lebih sopan.
- Menghindari pergaulan yang tidak mendidik.
- Mulai membiasakan shalat tepat waktu.
- Mengganti kebiasaan buruk dengan kegiatan bermanfaat.
Hijrah sejati tidak hanya mengubah penampilan luar, tapi juga menyentuh hati dan niat.
3. Hijrah Intelektual: Dari Tidak Tahu Menuju Paham
Sebagai mahasiswa, hijrah juga bermakna perubahan dalam pola pikir dan ilmu.
Hijrah intelektual berarti berpindah dari ketidaktahuan menuju pemahaman yang benar tentang Islam.
Mahasiswa yang berhijrah intelektual:
- Rajin mengikuti kajian ilmiah dan membaca buku-buku keislaman.
- Tidak mudah menyebarkan informasi agama tanpa dalil.
- Terbuka terhadap perbedaan pendapat selama berdasar pada ilmu.
“Barang siapa yang dikehendaki Allah mendapat kebaikan, maka Dia akan memahamkan dia dalam urusan agama.”
— HR. Bukhari dan Muslim
Ilmu yang benar akan menuntun seseorang menuju hijrah yang matang dan bijaksana.
4. Hijrah Sosial: Menjadi Pribadi yang Bermanfaat
Hijrah juga berarti menjadi sumber kebaikan bagi lingkungan sekitar.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Mahasiswa STAI Daqura bisa menerapkannya dengan:
- Aktif dalam kegiatan sosial dan dakwah kampus.
- Menolong teman tanpa pamrih.
- Menjadi contoh akhlak baik di lingkungan akademik.
Hijrah sosial menegaskan bahwa iman tidak cukup disimpan dalam hati, tapi harus diwujudkan dalam perbuatan nyata yang membawa manfaat bagi sesama.
5. Tantangan Hijrah di Era Modern
Hijrah di zaman sekarang tidak mudah.
Godaan media sosial, gaya hidup hedonis, dan lingkungan pergaulan sering kali membuat seseorang mudah goyah dan kembali pada kebiasaan lama.
Beberapa tantangan hijrah mahasiswa:
- Konsistensi ibadah di tengah kesibukan.
- Lingkungan yang kurang mendukung.
- Rasa takut dikucilkan karena perubahan diri.
Namun, jangan pernah menyerah. Setiap langkah menuju kebaikan pasti diiringi pertolongan Allah.
Hijrah bukan tentang sempurna, tapi tentang berani berubah dan tetap istiqamah.
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka…”
— QS. Fussilat: 30
6. Menjaga Konsistensi dalam Hijrah (Istiqamah)
Hijrah tanpa istiqamah akan mudah pudar.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya menjaga konsistensi dalam kebaikan.
Langkah-langkah menjaga istiqamah:
- Perbanyak dzikir dan doa agar hati tetap teguh.
- Cari lingkungan yang mendukung kebaikan.
- Jangan terlalu keras menilai diri atau orang lain.
- Lakukan perubahan sedikit demi sedikit namun berkelanjutan.
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus, meskipun sedikit.”
— HR. Bukhari
Kesimpulan
Hijrah bukan sekadar tren atau simbol perubahan luar, melainkan perjalanan spiritual menuju ridha Allah SWT.
Mahasiswa STAI Daqura harus memaknai hijrah sebagai upaya untuk memperbaiki diri, memperdalam ilmu, dan menebar manfaat bagi masyarakat.
Karena sejatinya, hijrah bukan hanya tentang meninggalkan sesuatu, tapi tentang menjadi seseorang yang lebih baik.

Leave a Reply