Pendahuluan
Kemajuan teknologi telah mengubah cara manusia berinteraksi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Di tengah arus media sosial yang cepat dan penuh warna, dakwah kini tidak lagi hanya berlangsung di mimbar masjid atau ruang kajian, tetapi juga di layar ponsel, YouTube, TikTok, Instagram, hingga podcast.
Bagi mahasiswa STAI Daqura, perkembangan ini bukan sekadar tantangan, tetapi peluang besar untuk berdakwah secara kreatif.
Namun, di balik kemudahan menyampaikan pesan melalui media digital, ada tanggung jawab besar untuk menjaga akhlak, etika, dan kebenaran isi dakwah.
1. Dakwah di Era Digital: Dari Mimbar ke Media
Istilah dakwah digital berarti menyampaikan ajaran Islam melalui platform teknologi dan media sosial.
Perubahan ini menunjukkan bahwa Islam selalu relevan dengan zaman.
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”
— QS. An-Nahl: 125
Kini, mahasiswa tidak perlu menunggu jadi ustadz untuk berdakwah. Dengan smartphone dan niat yang benar, siapa pun bisa menebar kebaikan — asalkan berlandaskan ilmu dan adab.
2. Mengapa Mahasiswa Perlu Berdakwah di Dunia Digital
Mahasiswa adalah kelompok yang aktif, kreatif, dan memiliki akses luas terhadap teknologi.
Peran mereka dalam dakwah digital sangat strategis karena:
- Mampu menjangkau generasi muda yang lebih banyak aktif di media sosial.
- Dapat mengubah citra dakwah menjadi lebih modern dan menarik.
- Menjadi pelopor dalam melawan konten negatif dan hoaks keagamaan.
- Mampu menggabungkan ilmu agama dengan teknologi dan seni komunikasi.
Mahasiswa STAI Daqura dapat menjadi dai digital yang santun, cerdas, dan inspiratif.
3. Prinsip Etika dalam Berdakwah di Dunia Maya
Dakwah di dunia digital tidak bisa dilakukan sembarangan.
Setiap kata, gambar, dan video bisa berdampak luas — bahkan viral — dalam hitungan detik.
Karena itu, Islam menuntut adab dan etika tinggi dalam berdakwah.
📌 Prinsip utama dakwah digital:
- Niat yang ikhlas — berdakwah karena Allah, bukan demi popularitas.
- Kebenaran isi — pastikan sumber ayat, hadis, dan tafsir yang digunakan sahih.
- Bahasa santun dan positif — hindari ujaran kebencian atau sindiran tajam.
- Mengajak, bukan menghakimi — sampaikan dengan hikmah dan kelembutan.
- Menjadi teladan — konten dakwah harus sesuai dengan perilaku pribadi.
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
— HR. Bukhari dan Muslim
4. Bentuk Dakwah Kreatif di Era Digital
Ada banyak cara mahasiswa berdakwah dengan cara kreatif dan menyenangkan, antara lain:
🎥 1. Video Dakwah Singkat
Buat video edukatif berdurasi 1–2 menit dengan pesan ringan seperti motivasi islami, doa harian, atau kisah sahabat Nabi.
Gunakan bahasa yang mudah dipahami dan menyentuh hati.
📱 2. Dakwah Melalui Desain dan Infografik
Gunakan kemampuan desain grafis untuk membuat poster dakwah dengan kutipan Al-Qur’an atau hadis, lalu bagikan di media sosial.
Visual yang menarik akan lebih mudah diterima generasi muda.
🎙️ 3. Podcast atau Konten Audio Islami
Podcast menjadi media populer di kalangan mahasiswa.
Gunakan untuk membahas isu-isu keislaman, motivasi hidup, dan nilai moral dengan gaya percakapan santai.
📝 4. Blog dan Artikel Islami
Menulis artikel di website kampus atau blog pribadi juga termasuk dakwah.
Tulislah tema seperti “Akhlak dalam Dunia Akademik” atau “Islam dan Produktivitas Mahasiswa.”
💬 5. Konten Humor Islami
Gunakan humor sebagai sarana dakwah ringan — tapi tetap sopan, tidak menyinggung, dan mengandung hikmah.
Humor yang mendidik bisa membuat orang belajar sambil tersenyum.
5. Tantangan Dakwah Digital
Walau peluang besar, dakwah digital juga menghadirkan tantangan:
- Banyaknya disinformasi keagamaan di internet.
- Persaingan konten yang kadang membuat orang tergoda mencari sensasi.
- Risiko ujaran kebencian dan perdebatan tanpa adab.
- Godaan untuk mencari pengakuan (likes dan followers) ketimbang keberkahan.
Oleh karena itu, seorang dai digital harus memiliki filter iman dan ilmu agar tidak terjebak pada pencitraan.
Yang penting bukan seberapa banyak ditonton, tapi seberapa banyak yang mendapat hidayah melalui pesan yang disampaikan.
6. Akhlak Sebagai Pondasi Dakwah
Rasulullah SAW adalah contoh paling sempurna dalam berdakwah — bukan dengan kemarahan, tapi dengan kelembutan dan akhlak yang mulia.
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki budi pekerti yang agung.”
— QS. Al-Qalam: 4
Bagi mahasiswa STAI Daqura, akhlak adalah pondasi utama dakwah.
Karena apa gunanya konten dakwah viral jika pembawanya kasar, sombong, atau menghina orang lain?
Dengan adab dan akhlak, dakwah akan diterima dengan hati terbuka, bukan sekadar lewat layar.
Kesimpulan
Dakwah kreatif di era digital membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk menyebarkan nilai Islam secara luas dan menarik.
Namun, di balik kreativitas, ada tanggung jawab untuk menjaga kebenaran, adab, dan akhlak.
Mahasiswa STAI Daqura diharapkan menjadi dai digital berkarakter — cerdas dalam strategi, santun dalam tutur kata, dan tulus dalam niat.
Karena pada akhirnya, dakwah yang paling kuat bukan dari kata-kata, tetapi dari teladan nyata.

Leave a Reply