Budaya Literasi Islami: Cara Mahasiswa STAI Daqura Menghidupkan Tradisi Membaca

·

·

Pendahuluan

Budaya literasi adalah kunci kemajuan peradaban. Bangsa yang gemar membaca akan selalu tumbuh dalam ilmu dan moral. Dalam sejarah Islam, literasi telah menjadi ruh peradaban, dimulai dari wahyu pertama:

“Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq” — Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan!
QS. Al-‘Alaq: 1

Ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW bukan perintah untuk berperang, berdagang, atau berkuasa — melainkan perintah untuk membaca.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya literasi dalam membangun umat yang berilmu, beradab, dan berakhlak mulia.

Mahasiswa STAI Daqura, sebagai calon intelektual Muslim, memiliki tanggung jawab untuk menghidupkan kembali budaya literasi Islami di lingkungan kampus dan masyarakat.


1. Literasi dalam Tradisi Islam

Sejak zaman Rasulullah SAW, Islam telah menempatkan ilmu dan membaca sebagai pondasi kehidupan.
Para sahabat dikenal gemar belajar, menulis, dan mendokumentasikan ilmu.
Banyak ulama besar lahir dari tradisi membaca dan menulis yang kuat, seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Imam Syafi’i.

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
HR. Muslim

Artinya, literasi bukan hanya kegiatan intelektual, tetapi juga ibadah yang membawa keberkahan.


2. Tantangan Literasi di Era Modern

Sayangnya, di era digital saat ini, minat baca masyarakat — termasuk mahasiswa — mulai menurun.
Banyak waktu dihabiskan untuk scroll media sosial daripada membaca buku atau jurnal ilmiah.
Padahal, tanpa kebiasaan membaca, daya kritis dan kemampuan berpikir mendalam akan menurun.

Beberapa tantangan utama budaya literasi modern:

  • Informasi instan membuat mahasiswa malas berpikir panjang.
  • Konten viral lebih menarik daripada bacaan ilmiah.
  • Kurangnya lingkungan yang mendukung kegiatan literasi.

STAI Daqura berupaya menjawab tantangan ini dengan mengintegrasikan literasi Islami dalam kehidupan akademik.


3. Literasi Islami: Membaca dengan Tujuan dan Nilai

Budaya literasi Islami berbeda dari sekadar membaca.
Ia menekankan tujuan, niat, dan manfaat dari bacaan.

Dalam Islam, membaca bukan hanya mencari pengetahuan duniawi, tapi juga:

  • Mendekatkan diri kepada Allah SWT.
  • Menambah keimanan dan wawasan spiritual.
  • Mengembangkan pola pikir kritis dan beradab.

Mahasiswa STAI Daqura dapat menerapkan literasi Islami dengan:

  • Membaca Al-Qur’an beserta tafsirnya setiap hari.
  • Mengkaji buku-buku pemikiran Islam klasik dan kontemporer.
  • Menulis refleksi dan catatan dari setiap bacaan untuk memperdalam pemahaman.

4. Peran Kampus dalam Menghidupkan Tradisi Membaca

Kampus Islam bukan hanya tempat kuliah, tapi juga pusat peradaban ilmu.
STAI Daqura berperan penting dalam menumbuhkan budaya membaca melalui:

  • 📚 Perpustakaan digital dan fisik yang menyediakan literatur keislaman dan akademik.
  • 🗣️ Forum diskusi ilmiah dan bedah buku untuk menumbuhkan minat baca.
  • ✍️ Program menulis ilmiah dan jurnal mahasiswa agar literasi berkembang dari membaca menjadi berkarya.
  • 💬 Komunitas literasi kampus, tempat mahasiswa saling berbagi inspirasi bacaan.

Dengan dukungan kampus, mahasiswa tidak hanya membaca, tapi juga berpikir dan berkontribusi melalui tulisan.


5. Manfaat Literasi bagi Mahasiswa Muslim

Menghidupkan budaya literasi Islami memberikan banyak manfaat, antara lain:

  1. Menumbuhkan kecerdasan spiritual dan intelektual.
    Membaca kitab dan tafsir memperdalam iman sekaligus memperluas wawasan.
  2. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
    Mahasiswa yang gemar membaca akan lebih analitis dan bijak dalam menyikapi isu sosial.
  3. Membangun karakter beradab dan beretika.
    Literasi Islami mengajarkan nilai akhlak, kesabaran, dan kejujuran dalam menuntut ilmu.
  4. Mendorong semangat berkarya.
    Dari membaca lahirlah tulisan, dari tulisan lahir perubahan.

6. Mahasiswa sebagai Duta Literasi di Masyarakat

Peran mahasiswa tidak berhenti di kampus.
Sebagai intelektual muda, mereka harus menjadi agen perubahan di masyarakat.
Melalui kegiatan seperti:

  • Mengadakan bazar buku Islam di lingkungan sekitar.
  • Mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an dan kisah para nabi.
  • Membuat konten dakwah edukatif berbasis literasi Islami di media sosial.

Dengan cara ini, mahasiswa STAI Daqura turut membumikan “Iqra’” — semangat membaca dalam kehidupan umat.


Kesimpulan

Budaya literasi Islami adalah warisan peradaban Islam yang harus dijaga dan dihidupkan kembali.
Bagi mahasiswa STAI Daqura, membaca bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi ibadah yang mencerdaskan dan memuliakan.

Dengan membaca, kita memahami dunia.
Dengan literasi Islami, kita memahami makna hidup dan arah menuju Allah SWT.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *