Peran Mahasiswa Islam dalam Menangkal Radikalisme dan Intoleransi

·

·

Pendahuluan

Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi telah membawa berbagai perubahan dalam kehidupan sosial masyarakat. Namun, di tengah arus globalisasi dan keterbukaan informasi, muncul pula ancaman baru seperti radikalisme dan intoleransi yang mengancam persatuan bangsa dan nilai-nilai Islam yang sejati.

Sebagai generasi terpelajar, mahasiswa Islam memiliki peran penting untuk menjadi penyeimbang antara kemajuan ilmu dan keutuhan moral bangsa.
Melalui pendidikan, literasi, dan keteladanan akhlak, mahasiswa mampu menjadi garda terdepan dalam menangkal paham ekstrem yang menyesatkan.


1. Memahami Makna Radikalisme dan Intoleransi

Sebelum menolak, penting bagi mahasiswa untuk memahami apa itu radikalisme dan intoleransi.

  • Radikalisme adalah sikap yang menganggap hanya pendapatnya yang benar, dan memaksa orang lain mengikuti dengan cara keras, bahkan kekerasan.
  • Intoleransi adalah ketidakmauan untuk menerima perbedaan, baik dalam agama, suku, atau pandangan sosial.

Padahal Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin — membawa kedamaian bagi seluruh alam, bukan memecah belah manusia.

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”
QS. Al-Anbiya: 107


2. Mahasiswa Sebagai Agen Perdamaian

Mahasiswa memiliki kekuatan besar: ilmu, idealisme, dan pengaruh sosial.
Mereka dapat menjadi jembatan antara kalangan akademik dan masyarakat dalam menyebarkan nilai Islam yang moderat dan toleran.

Peran penting mahasiswa Islam:

  • Menjadi contoh muslim yang berpikir terbuka dan menghargai perbedaan.
  • Aktif menggelar diskusi keagamaan yang mencerahkan, bukan yang memecah belah.
  • Menjadi pendamai dalam perdebatan sosial atau politik di media sosial.
  • Mengajak teman sejawat untuk memahami Islam dari sumber yang sahih, bukan dari narasi kebencian.

Dengan cara ini, mahasiswa menjadi penyebar cahaya Islam yang lembut dan cerdas.


3. Pendidikan Islam sebagai Benteng Pemikiran

Kampus Islam seperti STAI Daqura memiliki peran besar dalam membentuk pemahaman keagamaan yang seimbang (wasathiyah).
Melalui kurikulum dan pembinaan keislaman, mahasiswa dilatih untuk berpikir logis, kritis, dan berlandaskan ilmu.

Upaya kampus dalam menangkal radikalisme:

  • Mengintegrasikan nilai moderasi beragama dalam setiap mata kuliah.
  • Mendorong kajian ilmiah berbasis Al-Qur’an dan hadis, bukan doktrin sepihak.
  • Membangun komunitas mahasiswa berwawasan kebangsaan dan keislaman.

Ilmu agama yang benar adalah perisai dari penyimpangan. Semakin tinggi pemahaman, semakin kokoh pula iman.


4. Literasi Digital dan Perlawanan terhadap Narasi Kebencian

Salah satu jalur penyebaran paham radikal adalah media sosial.
Melalui konten provokatif dan disinformasi, banyak anak muda yang terpengaruh tanpa sadar.
Di sinilah mahasiswa harus tampil sebagai penjaga literasi digital.

Langkah nyata yang bisa dilakukan:

  • Memverifikasi setiap informasi keagamaan sebelum dibagikan.
  • Melaporkan akun atau situs yang menyebarkan ujaran kebencian.
  • Mengisi ruang digital dengan konten positif dan edukatif.
  • Mengajak masyarakat untuk berpikir kritis dan selektif terhadap berita viral.

“Apabila datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka telitilah kebenarannya.”
QS. Al-Hujurat: 6

Mahasiswa Muslim di era digital bukan hanya konsumen informasi, tetapi produsen kebaikan di dunia maya.


5. Meneladani Sikap Rasulullah dalam Menghadapi Perbedaan

Rasulullah SAW hidup di tengah masyarakat yang beragam, namun selalu mengedepankan dialog dan kasih sayang.
Beliau tidak memaksakan ajaran, melainkan mengajak dengan hikmah.

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
QS. An-Nahl: 125

Sikap ini menjadi teladan bagi mahasiswa Islam masa kini — bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan, tetapi peluang untuk belajar dan saling menghormati.

Dengan mengamalkan akhlak Rasulullah, mahasiswa bisa menjadi penyejuk di tengah konflik sosial.


6. Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat dalam Menjaga Toleransi

Upaya menangkal radikalisme tidak bisa dilakukan sendiri.
Mahasiswa harus bersinergi dengan:

  • Dosen dan tokoh agama untuk memperdalam pemahaman Islam.
  • Organisasi mahasiswa untuk mengadakan kegiatan lintas kampus.
  • Masyarakat umum melalui pengabdian sosial, dakwah, dan kegiatan kemanusiaan.

Kegiatan seperti bakti sosial, diskusi lintas iman, atau program edukasi keagamaan bisa menjadi media nyata menjaga harmoni dan ukhuwah.


Kesimpulan

Mahasiswa Islam memiliki tanggung jawab besar sebagai penjaga kedamaian dan penyebar nilai Islam yang moderat.
Dengan ilmu, akhlak, dan semangat kebangsaan, mereka dapat menjadi tameng bagi bangsa dari ancaman radikalisme dan intoleransi.

STAI Daqura terus mendorong mahasiswanya untuk berdakwah dengan akal sehat dan kasih sayang, bukan dengan kebencian.
Karena sejatinya, Islam adalah cahaya — dan mahasiswa adalah penerang masa depan bangsa.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *