Pendahuluan
Di tengah arus modernisasi dan kemajuan teknologi, banyak mahasiswa yang sibuk mengejar cita-cita akademik, karier, dan gaya hidup modern. Namun sering kali, di balik semua itu, ada hal penting yang mulai terlupakan — yaitu akhlak.
Padahal, Rasulullah SAW telah bersabda bahwa beliau diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
— HR. Ahmad
Mahasiswa kampus Islam seperti STAI Daqura diharapkan bukan hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga menjadi teladan dalam akhlak.
Artikel ini akan membahas bagaimana mahasiswa modern bisa meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari — baik di kampus, media sosial, maupun dunia kerja.
1. Kejujuran Sebagai Fondasi Kehidupan
Rasulullah SAW dikenal dengan gelar Al-Amin, yang berarti orang yang dapat dipercaya.
Kejujuran bukan hanya soal berkata benar, tetapi juga tentang integritas dan tanggung jawab.
Bagi mahasiswa, kejujuran harus tercermin dalam:
- Tidak mencontek saat ujian.
- Tidak memalsukan data atau tugas.
- Mengakui kesalahan dan berani memperbaikinya.
“Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.”
— HR. Tirmidzi
Kejujuran membuat seseorang dihormati, dan kepercayaan yang dibangun dari kejujuran lebih berharga daripada nilai akademik semata.
2. Rendah Hati di Tengah Prestasi
Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati ia bersikap.
Rasulullah SAW adalah pemimpin umat, tetapi beliau tetap sederhana dalam tutur kata dan perilaku.
Dalam kehidupan kampus, mahasiswa seringkali diuji dengan rasa bangga atas pencapaian. Namun, Islam mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab adalah kesia-siaan.
Ciri mahasiswa berakhlak mulia:
- Menghargai dosen dan teman.
- Tidak merendahkan orang lain.
- Menyadari bahwa semua ilmu adalah amanah dari Allah.
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.”
— HR. Muslim
3. Sabar dan Lapang Dada Menghadapi Ujian
Meneladani Rasulullah berarti belajar sabar menghadapi segala ujian.
Beliau mengalami banyak kesulitan dalam berdakwah, namun tidak pernah membalas dengan kebencian.
Sebagai mahasiswa, ujian bisa datang dalam bentuk:
- Nilai yang tidak sesuai harapan.
- Kesulitan ekonomi.
- Tekanan tugas dan organisasi.
Sabar bukan berarti diam, tetapi menghadapi masalah dengan tenang dan bijak.
Dengan kesabaran, Allah menjanjikan jalan keluar bagi setiap kesulitan.
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
— QS. Al-Insyirah: 6
4. Amanah dalam Tugas dan Tanggung Jawab
Salah satu akhlak utama Rasulullah adalah amanah — dapat dipercaya dalam menjaga titipan, menjalankan janji, dan menunaikan tugas.
Dalam konteks mahasiswa, amanah berarti:
- Menyelesaikan tugas tepat waktu.
- Tidak menunda kewajiban.
- Bertanggung jawab dalam organisasi atau proyek kelompok.
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.”
— HR. Abu Dawud
Mahasiswa yang memegang amanah akan selalu dihormati karena sikapnya yang konsisten dan profesional.
5. Santun dalam Bertutur dan Bertindak
Rasulullah SAW selalu berbicara dengan lemah lembut, bahkan kepada orang yang menentangnya.
Beliau mengajarkan bahwa kata-kata bisa menjadi penyembuh atau perusak.
Bagi mahasiswa masa kini, kesantunan sangat penting, terutama di era digital di mana banyak orang mudah berkata kasar di media sosial.
Gunakan media dengan bijak, hindari debat tidak bermanfaat, dan jaga kehormatan diri serta institusi.
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
— HR. Bukhari dan Muslim
6. Peduli dan Berempati terhadap Sesama
Rasulullah dikenal sangat peduli terhadap fakir miskin, anak yatim, dan orang yang membutuhkan.
Dalam kehidupan kampus, mahasiswa dapat meneladani sifat ini dengan:
- Membantu teman yang kesulitan belajar.
- Mengikuti kegiatan sosial.
- Berbagi ilmu dan pengalaman dengan junior.
Akhlak empati menumbuhkan persaudaraan sejati dan menciptakan lingkungan belajar yang harmonis.
Kesimpulan
Meneladani akhlak Rasulullah SAW bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan spiritual agar hidup penuh makna.
Bagi mahasiswa STAI Daqura, meniru akhlak beliau berarti menjadi insan yang cerdas, santun, jujur, amanah, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Ilmu akan menjadi cahaya, jika disertai akhlak.
Karena sejatinya, tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan manusia berilmu yang beradab.

Leave a Reply