Etika Berdakwah di Dunia Digital: Menyampaikan Kebenaran dengan Santun

·

·

Pendahuluan

Kemajuan teknologi telah membuka peluang besar bagi umat Islam untuk berdakwah. Media sosial seperti YouTube, Instagram, TikTok, hingga podcast kini menjadi panggung baru dakwah digital. Namun, di tengah kebebasan berbicara di dunia maya, muncul pula tantangan besar: bagaimana menyampaikan dakwah dengan etika dan kesantunan, bukan dengan emosi atau provokasi.

Dunia digital memang memungkinkan pesan Islam menjangkau jutaan orang, tetapi tanpa etika yang benar, dakwah justru bisa menimbulkan perpecahan dan kesalahpahaman.
Mahasiswa kampus Islam seperti STAI Daqura memiliki peran penting untuk menjadi generasi dai muda yang berilmu, beradab, dan berakhlak.


1. Niat yang Ikhlas dalam Berdakwah

Langkah pertama sebelum berdakwah — baik secara langsung maupun di media sosial — adalah meluruskan niat.
Tujuan utama dakwah bukan untuk mencari popularitas, jumlah pengikut, atau pujian, melainkan semata-mata karena Allah SWT.

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
HR. Bukhari dan Muslim

Ketika niatnya lurus, setiap kata yang disampaikan akan mengandung keberkahan, meski sederhana. Sebaliknya, jika dakwah dilakukan demi ketenaran, maka hilanglah nilai ibadah di dalamnya.


2. Berdakwah Berdasarkan Ilmu, Bukan Emosi

Salah satu kesalahan yang sering muncul di media sosial adalah dakwah tanpa dasar ilmu.
Padahal, dalam Islam, menyampaikan sesuatu yang tidak benar termasuk perbuatan dosa.

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)
Hadis ini bukan berarti boleh menyampaikan sembarangan, tetapi menegaskan pentingnya menyampaikan yang benar-benar dipahami.

Sebelum membagikan ayat atau hadis di media sosial:

  • Pastikan sumbernya sahih.
  • Pahami konteksnya dengan benar.
  • Hindari menafsirkan secara pribadi tanpa rujukan dari ulama.

Dengan begitu, dakwah menjadi ilmiah, bernilai, dan dipercaya.


3. Gunakan Bahasa yang Santun dan Menyejukkan

Dakwah bukan untuk memojokkan, tetapi untuk mengajak dengan kelembutan.
Kesantunan adalah kunci agar pesan Islam diterima oleh hati yang terbuka.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri darimu.”
QS. Ali Imran: 159

Hindari kalimat yang mengandung ejekan, sindiran tajam, atau penghinaan terhadap pihak lain.
Gunakan bahasa yang mudah dipahami, menenangkan, dan membangun semangat kebaikan.


4. Hindari Dakwah yang Memecah Belah Umat

Media sosial sering kali menjadi ajang perdebatan tanpa ujung.
Sebagai dai muda, penting untuk menjaga persaudaraan sesama Muslim, meskipun berbeda pendapat.

Jangan jadikan perbedaan mazhab, pandangan, atau organisasi sebagai alasan untuk saling menjatuhkan.
Sebaliknya, jadikan dakwah sebagai jembatan persatuan, bukan tembok perpecahan.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
QS. Al-Hujurat: 10


5. Bijak Menggunakan Media Sosial

Dakwah digital bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana kita bersikap di dunia maya.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:

  • Hindari membalas komentar dengan emosi.
  • Jangan ikut menyebarkan konten yang provokatif.
  • Verifikasi setiap berita sebelum membagikan.
  • Gunakan caption dan tagar yang positif.

Dengan etika yang baik, konten dakwah akan membawa ketenangan, bukan keributan.


6. Fokus pada Solusi, Bukan Sekadar Kritik

Dai sejati tidak hanya menunjukkan kesalahan, tetapi juga memberikan solusi dan jalan keluar.
Jika membahas fenomena sosial atau masalah keagamaan, sampaikan dengan nada edukatif — bukan menyalahkan.

Misalnya:

  • Saat membahas gaya hidup hedonisme, ajak untuk hidup sederhana tanpa menghina siapa pun.
  • Saat menyinggung topik ibadah, arahkan dengan dalil dan nasihat lembut, bukan perdebatan.

Kritik tanpa solusi hanya akan membuat orang menjauh, sedangkan nasihat yang bijak akan mengetuk hati.


7. Dakwah dengan Teladan, Bukan Hanya Kata-Kata

Dakwah yang paling kuat adalah dakwah bil hal — menyampaikan Islam melalui perilaku dan keteladanan.
Sopan santun di media sosial, konsistensi dalam ibadah, dan sikap rendah hati jauh lebih berpengaruh daripada kata-kata panjang.

Mahasiswa STAI Daqura dapat menjadi contoh dengan:

  • Menjaga tutur kata dalam komentar online.
  • Menghindari pamer amal.
  • Menjadi panutan positif bagi teman-teman di dunia maya.

“Perbuatan baik adalah dakwah tanpa suara.”


Kesimpulan

Etika dalam berdakwah adalah jiwa dari dakwah itu sendiri.
Di era digital yang serba cepat, seorang dai atau mahasiswa Muslim harus mampu menampilkan wajah Islam yang ramah, santun, dan penuh kasih.

STAI Daqura mengajak seluruh mahasiswa untuk menjadi dai digital yang berilmu dan beradab, bukan sekadar viral, tapi membawa manfaat dan ketenangan bagi umat.

Jadikan setiap postingan sebagai ladang pahala, bukan sumber perpecahan.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *